6/27/20

Unity in Diversity


My latest illustration, called Unity in Diversity

I wish I can say something sweet and philosophical about the story behind this illustration, but I'm afraid I can't. For me it's just too dumb and wrong in so many ways. Yes it is -racism- and always will be, one of the worst idea in a history of mankind. 

Unity in Diversity, original sketch pencil and ink on paper

Ideas is like a diseases. It's spread quickly and infecting our mind, and sometimes we don't even realized it. Once it's stick, it stays forever like a growing mold, getting stronger and expanding until it takes over our brain. This tiny droplet of idea now became an ocean, followed by millions of man, to become a new common sense in their daily life. That's how racism, and any other stupid ideas started to ruin human society, just like a cancer in our body. 

Unity in Diversity, printed & framed

It's in our nature to have different preferences of anything. We have different taste of style, different opinion about how to live our lives, even different point of view to see problems. I agree that we should speak up our mind, and freedom of speech is a must. But that doesn't mean that we can let anything goes into our mind, and leave dirty ideas to infect our soul and senses.

Unity in Diversity Bucket Bag

When I was i child, until I'm about 16 at high school, I often bullied by other kids in my neighborhood. They said that I'm a Chinese and I shouldn't live in Indonesia. I should go back to China, they said. Just because I have relatively lighter skin color and a hooded eyes, they immediately said that without hesitation or even consider for my feeling. Regardless of the truth, that I think I have no Chinese ancestor in the family tree for a few generation back then. Sadly, most of them was just a little kids. It's an age when they will copy anything in their surrounding, just like a sponges absorb every drops of water and spill it anywhere and anytime it's squeezed. I was really sad.

I love bucket bag for it simplicity, easy to carry, and very stylish for any occasions
The part that hurt me the most was not about the bullying, but how in the world such a horrifying ideas like racism is easily planted in an innocent child mind, and the adult doesn't even care enough to notice it. Or maybe they notice, but since it's the common ideas in the community, they consider it as true.

Short handle for hand bag style

For me, honestly, it doesn't matter if you don't like how the Chinese looks, or if you don't like the looks of anyone who have different skin color from you. We have our preferences, and that's fine to have certain feeling about it. What matter is the willingness to respect a differences, and see that diversity is a necessary properties in our life that should treat equally and fair for every human being. Always remember, that it's our differences that makes us complete each other. That's the kind of ideas that we should teach to our children.

This bucket bag is made of genuine leather and printed waterproof canvas fabric

This is our big responsibilities as a parents, and as a human being of course, who live in -probably- the only inhabitable planet in this vast empty universe, to give our children and the next generation an understanding of how important the role of diversity for the sustainability of the entire human race.

The drawstring is designed to align two sided, makes it easier to open, with two different adjustable handle, reversible to wear it as a sling bag and hand bag
P.s. Unity in Diversity Bucket Bag is available for pre-order at my website, tuffadoll.com 😻

5/27/20

Tentang Waktu

Bagian kedua




Cahaya matahari pagi menyeruak dari sela-sela jendela kamar, terdengar sayup-sayup suara burung berkicau merdu, seolah penuh suka cita merayakan keindahan pagi yang cerah ini. Cahaya bagiku memiliki makna yang sangat dalam. Setiap kali menatap berkas cahaya matahari pagi, selalu teringat masa kecilku bersama bapak, ibuk, dan adik laki-lakiku, Alif, dulu. Karena waktu itu belum ada listrik di desa kami yang terpencil, penerangan pada saat malam hari hanya mengandalkan lampu ublik kecil. Jangankan untuk membaca, untuk membedakan wajah saja sulit karena cahaya terlalu redup dan remang-remang. Pernah suatu saat aku iseng dan memakaikan kerudung di kepala Alif. Benar saja, karena redupnya cahaya ublik, ibuku mengira Alif adalah aku, dan menyuruhnya membantu mengupas bawang. Kami pun tergelak geli. Entah dari mana datangnya kegembiraan itu, tapi yang jelas harta bukanlah sumber kebahagiaan bagi kami sekeluarga. 

"Nguuuungggg..ngungggg" tiba-tiba terdengar suara seperti gergaji mesin dari luar rumah. Aku terkejut dan serta merta mengintip ke arah jendela. "Suara mesin apa yang mengganggu keindahan pagi yang cerah ini?" Pikirku dalam hati..

Namun dari jendela kamar yang menghadap ke barat ini, tidak tampak mesin apapun di luar. Hanya cahaya matahari pagi yang makin terang dan memenuhi kamar ini. Dulu, setiap malam aku tak sabar untuk segera tidur, agar pagi cepat datang dan sinar mentari segera menerangi rumah kami. Aku benci gelap dan dingin. Sangat menakutkan dan membuat perasaanku was-was. 

Ya, cahaya ini tetap sama seperti yang dulu. Matahari yang berusia sekitar 4,6 Miliar tahun ini, diperkirakan akan terus menyinari bumi dan planet lain di galaksi Bima Sakti selama 5 Miliar tahun lagi. Cahayanya diperkirakan membutuhkan waktu 8 menit untuk mencapai bumi. Waktu yang mengagumkan, mengingat jarak antara bumi dan matahari adalah sekitar 150 juta kilometer. Jika waktu 8 menit diberikan padaku untuk berlari, aku mungkin hanya akan mencapai pasar yang terletak sekitar 300m di dekat rumah mertuaku ini, itupun kalau tidak tersandung batu dan nyungsep di parit berbau ikan busuk di pinggir jalan. Relatif, begitulah kata para ilmuwan menilai waktu. Lantas apakah hubungan cahaya dengan waktu?

"Brakkkkkkkk!!!!!" Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang amat sangat keras. Saking kagetnya, langsung kusambar penebah yang terbuat dari lidi di samping kasur.

"Plaaakkkk" dengan keras kutepuk wajah mas Budi yang lagi asik tidur mendengkur, dengan penebah lidi itu.

"Aduuuuhhh!!!!" Teriaknya kesakitan sambil kebingungan merem melek memegang wajahnya yang memerah. 

"Apa sih Sri, ganggu orang tidur aja!! Emangnya aku laler apa, kok ditapuk pake penebah lidi begitu" katanya bersungut-sungut.

"Maaf mas aku ga sengaja.. lha itu lho ada suara keras dari luar dan ada teriakan anak2. Coba tolong sampeyan lihat dulu, ada apa di luar" Ujarku sambil menahan geli.

Rupanya bentuk mulut mas Budi yang tonggos, menyebabkan si penebah lidi itu mendarat tepat di bibir dan hidungnya. Alhasil bibir monyongnya jadi sedikit bengkak bak ikan Tembakang yang sedang menyedot plankton, dan hidung peseknya tampak bergaris-garis belang kemerahan dari bekas lidi tadi. "Inikah makna harfiah dari pria hidung belang?" Batinku geli.

"Iya-iya, sik kulihat dulu" ujarnya sambil bersungut sungut beranjak dari kamar, dan dengan malas menuruni tangga untuk keluar rumah.

"Waduh Sri, gawat!!" Ujar mas Budi tergopoh-gopoh kembali dari luar rumah. 
"Ada apa to mas, kok sepertinya heboh banget di luar. Tolong bilang jangan berisik ya, ini si Menik baru tidur lho" sahutku agak kesal.

"Itu lho, ternyata Bulik Siti lagi nebang pohon mangga besar di depan rumahnya. Lha itu, ada dua tukang bawa gergaji mesin, lagi motong batangnya. Nah satu dahan besar itu jatuh menimpa atap rumah ini. Pas di kamar si Bambang dan Wati!!" 

"Astaghfirullah, lha terus gimana, Wati dan Bambang gak papa kan?" Ujarku kaget.

"Nah itu dia, untungnya Bambang dan anak-anak lagi di teras. Di kamar cuma ada Wati lagi ngepel. Kata ibu tadi, kepala Wati luka tertimpa genteng yang jatuh kena dahan pohon." Ujar mas Budi yang tampak kebingungan.

"Ya sudah ayo kita lihat kondisi Wati mas" tukasku seraya mengajak mas Budi ke lantai bawah.

Rupanya semua anggota keluarga sudah berkumpul di teras. Tampak Wati yang sedang kesakitan memegangi kepalanya, dan ibu mertuaku sedang mengambil kotak obat di lemari.

"Dik Wati, gimana kepalanya? Apa lukanya besar?" Tanyaku pada Wati.

"Gak besar kok lukanya Mbak, cuma aku sebel banget sama tukang gergaji suruhan Bulik Siti itu, kok kurang ajar sekali nebang pohon gak hati-hati malah bikin celaka orang lain. Untung anak-anak pas lagi main di luar. Kalo kena juga kan bahaya" ujar Wati berang. Matanya membelalak merah dan berkaca-kaca, wajahnya pun merah padam dan berkeringat, seolah mengutuk dalam hati dan ingin membalas perbuatan Bulik Siti dan tukang gergajinya itu.

"Iya sudah, namanya juga kecelakaan kan ndak sengaja. Ayo sini ibu bersihkan lukanya" ujar ibu mertuaku, sambil menyiapkan kasa steril, alkohol, dan obat luka. Tampak dua benjolan merah sebesar separuh bola tenis menyembul dari balik rambutnya. Aku mendelik ngeri melihatnya. Seketika aku teringat salah satu karakter di film Star Wars, Kapten Ackbar, yaitu spesies makhluk luar angkasa berkepala benjol yang disebut Mon Callamari, dengan adegan legendarisnya berteriak "It's a trap!!!!". Persis seperti kondisi Wati yang seolah terjebak kemelut yang dibuatnya sendiri.

"Sepertinya perang antara Wati dan Bulik Siti baru saja akan dimulai." Pikirku dalam hati. 

Antara khawatir dan penasaran, sejujurnya aku tak sabar menanti kelanjutan drama kedua wanita yang sama-sama keras kepala itu. Ya, hukum Newton Kedua yang Wati terapkan ke sampah daun mangga Bulik Siti tempo hari, sudah dibalas dengan tangan dingin oleh Bulik Siti, juga menggunakan hukum Newton, gravitasi, tepat mengenai kepala Wati yang sekarang benjol itu.

"Sssst.. mbak Sriii...sini aku kasih tau" Tiba-tiba lenganku ditarik oleh Ida dan diajaknya ke dapur. Sambil berbisik, dia kembali berujar

"Mbak, kok kayaknya bulik Siti itu sengaja mbalas si Wati ya"

"Ah kamu itu jangan mikir aneh-aneh Da, namanya juga kecelakaan, kan pasti gak sengaja. Lagian Bulik Siti kan orangnya selalu baik sama kita" jawabku berusaha meredam kecurigaan Ida. Aku khawatir jika Ida makin penasaran dan mulai menghasut anggota keluarga lainnya. Bisa perang saudara betulan nanti.

"Lha mbak Sri ini piye to, mosok ga tau kalo kemarin itu Bulik Siti berantem sama Paklik Parjan, teriak-teriak banting pintu juga lho."

Jawab Ida berapi-api sambil memonyongkan bibir mujairnya yang dipulas lipstik merah. Matanya yang bulat dengan celak hitam pekat tampak mendelik nanar. Ekspresi sinisnya makin dramatis dengan alis setebal 1,5 cm yang digambar lebih tinggi dari aslinya,  menukik tajam membentuk sudut 100°. Makeup super menor ala Ida ini agaknya terinspirasi dari film Dendam Nyi Blorong favoritnya.

"Iya Da, Aku juga dengar. Sepertinya Bulik Siti tersinggung dengan perbuatan Wati kemarin, jadi pohon mangganya langsung ditebang. Tapi untuk insiden dahan jatuh tadi sepertinya benar-benar ndak sengaja Da." Ujarku pelan.

"Hmm iya sih mbak, mungkin aja gak sengaja. Tapi kok pas banget gitu, jatuhnya di kamar Wati. Benar-benar kebetulan yang aneh kan?"
Sahut Ida sambil memicingkan matanya, dan ngeloyor pergi ke teras.

"Wah bahaya ini, kalau Ida sampai menghasut Wati untuk membalas Bulik Siti lagi, bisa-bisa perang terus berlanjut bak drama kolosal Cina 60 episode itu" Gumamku dalam hati.

"Aduuh panas nih sekarang rumahnya"

ujar Marni di teras, sambil menyipitkan matanya mengawasi tukang yang sedang memotong dahan pohon mangga besar itu. Cahaya matahari sekarang penuh menyinari teras rumah ini, terik sekali. Sebelumnya, dahan pohon mangga itulah yang meneduhi, sehingga terasa sangat sejuk pada siang hari.

Cahaya itu memang sangat unik. Ia memiliki sifat pemalu. Ketika kita berusaha mengejar cahaya, dan meningkatkan kecepatan untuk mencoba menangkapnya, ia akan mempercepat dirinya dengan jumlah yang sama dengan kita. Jadi seberapa cepat kita berusaha mengejarnya, cahaya akan selalu lebih cepat di atas kita, sehingga selisih kecepatan yang terjadi akan selalu sama. Hal ini lah yang disebut oleh para cendekiawan dengan konstanta kecepatan cahaya, yaitu 299.792.458 meter per detik. Konstanta inilah yang digunakan untuk mengukur waktu, seperti halnya kita mengunakan meteran untuk mengukur jarak. Suatu jarak dalam waktu, adalah jumlah waktu yang diperlukan cahaya untuk melintasi jarak tersebut pada suatu ruang. 

Tampak halaman Bulik Siti kini sudah bersih kembali. Sampah daun dan genteng atap yang rusak pun sudah diperbaiki oleh tukang gergaji itu. Tak lupa mereka juga minta maaf pada ibu mertuaku dan si Wati, yang kemudian bersungut-sungut pergi mengunci diri ke kamarnya. Ibu mertuaku hanya bisa menghela nafas panjang, sambil menyuruh kedua tukang gergaji agar cepat pulang.

"Njih mas ndak apa-apa, Wati cuma benjol saja kepalanya kok, ndak ada luka serius. Lain kali sampeyan berdua hati-hati ya. Sudah cepatlah pulang dan istirahat. Maturnuwun sudah membersihkan halaman dan memperbaiki genteng rumah kami" ujar ibu mertuaku sambil menyodorkan bungkusan berisi makanan. Kedua tukang gergaji itu menerimanya dengan penuh suka cita dan pamit pulang. Wati masih mengunci diri di kamar, entah apa yang ada di benaknya sekarang.

Cahaya matahari makin terik, namun di ujung timur tampak awan hitam raksasa sudah menggantung dan berarak perlahan. Makin dekat ke arah sini. "Sepertinya sore ini akan hujan" Gumamku dalam hati.

Waktu begitu cepatnya berlalu. Sekarang sudah hari terakhir puasa, dan insiden yang membuat benjol si Wati tadi, sungguh merupakan kejadian tak terduga bagi kami sekeluarga. Anehnya lagi, Bulik Siti yang biasanya ramah, sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya hari ini, bahkan untuk sekedar kerumah minta maaf atas kelalaian tukangnya tadi.

"Apakah benar kata Ida, kalau Bulik Siti memang sengaja membalas perbuatan Wati tempo hari?"

Pikiranku terbang membayangkan adegan Wati tertimpa pecahan genteng, dan terjerembab mencium ember berisi kain pel di depannya. Ya, hukum gravitasi memang akan berlaku universal, tanpa memandang dendam dan sakit hati. Namun, keputusan menebang pohon yang jelas-jelas salah satu cabang besarnya menggantung di atas kamar Wati, bisa jadi dilandasi kejengkelan Bulik Siti terhadap Wati. Akhirnya Bulik Siti mungkin menyadari bahwa gravitasi ternyata bisa menjadi alat bantu membalaskan sakit hatinya. Lantas adakah hubungan antara gravitasi dan waktu?

Gravitasi, waktu, dan cahaya memiliki hubungan yang sangat spesial. Para ilmuwan menemukan bahwa tenyata waktu bergerak lebih lambat pada kondisi gravitasi yang lebih besar, demikian pula sebaliknya, waktu akan menjadi lebih cepat pada gravitasi yang lebih kecil. Albert Einstein pertama kali mengungkapkan ide tersebut pada tahun 1907, dengan istilah "dilatasi waktu". Fenomena ini berdampak pada jumlah waktu yang telah berlalu, pada dua peristiwa yang sedang berlangsung oleh pengamat yang terpisahkan dengan jarak dan gravitasi berbeda. Persis seperti fenomena perbedaan usia di film Interstellar yang terkenal itu. Gravitasi pun ternyata berpengaruh terhadap cahaya. Ternyata cahaya yang merambat lurus, akan melengkung ketika melintas di sekitar benda bermassa sangat besar, seperti bintang neutron dan lubang hitam. Fenomena ini dijelaskan oleh Einstein dalam teorinya yang disebut Relativitas Umum.

Waktu, mengikuti persamaan sederhana, yaitu "kecepatan berbanding lurus dengan jarak yang dibagi waktu tempuh". Maka kecepatan, dalam hal ini cahaya, yang memiliki kecepatan tetap, akan membutuhkan waktu lebih banyak ketika melintasi Medan gravitasi besar. Hal ini disebabkan terjadinya kelengkungan yang menyebabkan jarak tempuh menjadi meningkat.

Contoh terjadinya fenomena ini adalah pada GPS di ponsel yang kita gunakan sehari-hari. Satelit GPS berada pada ketinggian sekitar 20.000 km di atas permukaan bumi. Maka, medan gravitasi bumi di jarak sejauh itu akan lebih lemah dibandingkan ketika berada di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan waktu bergerak lebih cepat pada satelit dibandingkan dengan waktu di permukaan bumi. Maka para ilmuwan harus menyesuaikan perbedaan waktu yang terjadi, pada program satelit. Jika tidak, maka sistem navigasi GPS di ponsel tidak akan akurat, dan tidak dapat digunakan lagi.

"Kwok...Kwok!!"
Tiba-tiba nada dering suara kodok di ponsel mas Budi mengagetkan lamunanku. Ponselnya yang tergeletak di meja kamar, berkali kali berbunyi dan mengganggu si Menik yang sedang tidur siang.

"Tumben mas Budi keluar rumah ga bawa hape" pikirku heran.

Akhirnya aku ambil ponsel itu, dan berusaha menon-aktifkan nada dering kodok yang menyebalkan itu.  Ternyata ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan singkat yang masuk di ponsel mas Budi. Terlihat nama penelpon itu adalah "W". "Aneh sekali" pikirku. Tak biasanya ada nama yang hanya inisial saja. Karena penasaran, akhirnya kubuka saja pesan masuk itu, lalu kubaca.

"Mas Budi, kapan kita ketemuan lagi di Hotel seperti kemarin. Aku kangen loh"

Bak tersambar petir, tanganku bergetar hingga ponsel mas Budi hampir jatuh dari tanganku. Aku terduduk lemas, dan meneruskan membaca kembali pesan yang lain, yang ternyata berisi percakapan mesra dan tidak senonoh antara suamiku dengan si W itu. Lututku lemas, tanpa sadar aku sudah berlutut di lantai sambil kebingungan dan berusaha memahami semua ini. Tak terasa air mataku mulai mengalir, makin lama makin deras, membasahi pipiku. Aku terisak selama hampir satu jam di kamar, sambil terus berusaha mencari pesan-pesan lain di ponsel mas Budi. Lalu kutemukan banyak sekali, ratusan, mungkin ribuan percakapan antar mas Budi dengan banyak perempuan. Ada banyak pula foto dan screenshot mas Budi melakukan video call dengan perempuan-perempuan itu. Hatiku remuk. Tiba-tiba semangat hidupku hilang, dan muncul rasa sakit dan sesak luar biasa di dadaku.

"Cobaan apa lagi ini yaa Allah" ratapku dalam hati.

"Bisakah aku melewati Ramadhan ini dengan penuh kebahagiaan seperti yang lainnya?"


Bersambung..

5/11/20

Tentang Waktu



Bagian 1


Alahuakbarrr Allaaaahuuuakbaaarrr!!!!


Terdengar azan subuh berintensitas seratus desibel berkumandang dari pengeras suara sember di mushola kecil sekitar 20 meter dekat rumah kami. Sang muazin, Pak Sabar tetangga depan rumah, memang tidak bersuara semerdu Said Al Ghomidi, imam besar Masjidil Haram yang sangat diidolakan suamiku. Namun demikian, semangatnya untuk berusaha istiqomah selalu azan tepat waktu, sepertinya bisa menutupi kesalahan makhraj dan harakat yang mungkin jika guru mengajiku, pak Haji Sangsang, mendengarnya akan merah padam wajahnya menahan keinginan untuk ‘mengajari’ cara mengaji dengan sempurna. Aku teringat semasa kecil dulu, setiap Ramadhan, anak-anak di kampungku semakin antusias mengaji, selain karena di masjid dekat rumah selalu mengadakan buka bersama, juga karena takjil dari ibu-ibu sekitar masjid sangat banyak ragamnya dan lezat-lezat pula rasanya. Kegembiraan dan antusiasme anak-anak yang termotivasi takjil itu ternyata berimbas pada menurunnya konsentrasi mereka saat pelajaran mengaji dimulai. Betapa tidak, satu persatu berdatangan ibu-ibu mengantarkan takjil silih berganti, diikuti semerbak aroma makanan memenuhi serambi masjid, tepat di luar jendela ruangan tempat mengaji kami. Satu persatu anak-anak mulai berkerumun di dekat jendela, tanpa menghiraukan Pak Haji Sangsang yang sedang menyimak temanku mengaji. Melihat perbuatan anak-anak itu, seketika raut wajah pak haji Sangsang berubah bengis, dan melemparkan penghapus kayu besar ke arah tembok

 “Bletakkk!!!!” 


sambil berteriak "Ulangiiiii lagi dari awal Yadiii, makhrajnya salah semuaaa!!!” seraya melotot ke arah anak-anak yang berkerumun di jendela. Aku, yang sedang menyalin surat Al-Ikhlas sambil beberapa kali menelan air liur yang makin deras mengalir karena terstimulus aroma sedap dari luar jendela, seketika kaget melihat ke arah mata haji Sangsang yang terbelalak nanar. Bola matanya yang penuh urat merah pembuluh kapiler, seolah meronta ingin melompat lepas merdeka dari kelopak matanya yang keriput dan berkantung bak lipatan poni gelombang pada gorden di jendela rumah bangsawan Perancis. Bagi anak berumur 7 tahun sepertiku, sungguh itu adalah pemandangan yang cukup mengerikan, yang justru jadi pengalaman menggelikan ketika diingat sekarang. Teman-temanku yang sedang asyik mengintip takjil di jendela seketika buyar seperti kerumunan ayam yang kalang kabut dilempar petasan, sedangkan si Yadi yang sedang mengaji celingak-celinguk kebingungan karena namanya disebut lantang, namun ternyata bukanlah dia yang dimaksudkan. Aku selalu tersenyum geli jika mengingat ramadan di masa kecil, yang kini jauh berbeda dengan kondisi tahun ini, dimana seluruh dunia sedang terjangkit wabah mematikan bernama virus Covid-19. Andaikan waktu dapat diulang kembali, akankah hidupku jadi lebih baik dari sekarang? Ataukah justru lebih buruk?

Tok tok tok!! “Budiiiii, bangun le.. Ayo sahur dulu”

Terdengar ibu mertuaku mengetuk pintu kamar kami. Aku yang sedang menyusui anak bayiku yang kedua, tergopoh berusaha ikut membangunkan suamiku dengan menendangnya secara spontan.


Brakkkk!!


Tiba-tiba suamiku yang terbangun kaget, jatuh terlentang di lantai.  “Nggeblak” istilah bahasa Jawanya yang lebih spesifik. Sambil mengerang kesakitan ia merintih berbisik “pelan-pelan dong kalo bangunin, sakit tau”, ujarnya sambil meringkuk memegang kemaluannya. Innalillahiii, ternyata buah zakarnya lah yang tak sengaja kutendang. Karena kaget dan dalam keadaan gelap, tak sadar aku mengeluarkan jurus Jujitsu dari film laga yang kemarin kutonton di TV, tepat mengenai skrotum yang berisi sel-sel sertoli, sang produsen benih cikal bakal kelangsungan generasi umat manusia di alam semesta.


“Maaf..maaf ya, itu ibu dari tadi ketuk pintu bangunin kita. Ayo sahur dulu…” bisikku pelan takut membangunkan anak bayiku yang pulas tertidur. Di kamar kecil berukuran 2x3m ini kami tidur berempat, bersama anak sulungku yang berumur 6 tahun. Sudah satu bulan sejak perusahaan tempat bekerja suamiku gulung tikar, kami berempat pulang kampung dan tinggal menumpang di rumah ibu mertuaku di desa. Uang tabungan sudah habis untuk membayar hutang, dan suamiku  sudah tidak mampu lagi membayar kontrakan dan biaya hidup yang mahal di kota. Aku yang hanya ibu rumah tangga di rumah, tidak bisa banyak membantu suamiku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan berat hati keputusan memalukan ini kami ambil, setelah beberapa hari kami hanya bisa makan nasi aking dan kecap yang diencerkan untuk mengganjal perut. Mertuaku yang bisa dibilang cukup berada di desa, sangat senang menyambut kedatangan kami, karena suamiku beralasan bahwa perusahaannya menerapkan “work from home” seperti anjuran pemerintah, dan sekolah anak-anak pun libur sehingga akhirnya kami semua bisa pulang kampung untuk waktu yang lama. Atau bahkan mungkin selamanya, pikirku sambil tersenyum getir membayangkan hari-hari panjang yang akan kulalui di rumah mertuaku ini. Suamiku bergegas bangun dan bersiap sahur, lalu sholat subuh berjamaah di masjid bersama bapak mertua dan dua orang adik laki-lakinya, sedangkan ibu mertuaku dan tiga orang iparku yang lain sholat berjamaah di rumah. Sungguh sangat harmonis dan agamis keluarga ini, jika orang lain melihat pasti akan ikut senang dan berharap memiliki keluarga besar seperti kami. Namun tak semua yang tampak itu mencerminkan yang sesungguhnya terjadi. Prahara dalam drama tidak bisa dengan mudah terungkap hanya dengan melihat judulnya saja. Begitulah kira-kira yang  terjadi di rumah ini.

Kesibukan pagi pun dimulai, seperti biasa anak-anak bermain dengan ceria di halaman rumah. Aku dan para ipar wanita sibuk bersih-bersih, mencuci pakaian, menyetrika, dan berbagai kegiatan harian yang sungguh melelahkan jika tidak dilakukan dengan ikhlas. Tak terasa sudah 8 tahun aku berumah tangga, dan kini aku mulai memahami sifat tiap-tiap anggota keluargaku yang unik ini, dan tentunya membuat hari-hariku menjadi sangat berwarna. Iparku yang pertama, Wati, adalah seorang Newtonian sejati. Ia tampaknya sungguh terobsesi dengan hukum ke 3 Newton yang berbunyi “untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah”. Caranya bersikap pada orang lain selalu harus sesuai dengan perlakuan orang itu terhadapnya. Jika ada sesuatu yang dianggap kurang adil baginya, bisa langsung gelisah hatinya seolah ada bisul besar di bokongnya yang hampir meletus hingga tak bisa duduk tenteram. Pantang baginya untuk meminjam barang yang bukan miliknya, dan juga mengambil yang bukan haknya. Juga sebaliknya, jika ada barang miliknya yang dipinjam, mungkin akan dikejarnya hingga 7 turunan jika tak segera dikembalikan. 

Pagi ini baru saja kulihat dia “mengembalikan” sampah daun dari pohon mangga milik saudara sebelah rumah, bulik Tutik adik kandung ibu mertuaku, ke depan halaman mereka lagi. Padahal ada dua keranjang sampah kosong di sana. Rupanya Wati ingin memberi pelajaran moral dari Hukum Newton ke 3 tersebut pada bulik Tutik, yang bahkan mungkin Sir Isaac Newton sendiri dulunya tidak sampai hati menerapkan ke tetangganya. Halaman rumah mertuaku tampak bersih kembali, kontras dengan halaman rumah bulik Tutik sekarang. Pemandangan yang cukup menggelikan pagi ini, merupakan “hiburan” tersendiri bagiku. Namun sejujurnya aku merasa perbuatan iparku agak berlebihan, mengingat betapa baiknya bulik Tutik sekeluarga pada kami. Saat pohon mangganya berbuah, mereka selalu mengantarkan sebagian hasil panennya ke rumah. Juga masih banyak kebaikan lain, yang mungkin hanya bisa ditimbang di Yaumul Hisab nantinya, jika Wati merasa itu tidak ada kaitannya dengan konsep “keadilan” yang dianutnya. Sesungguhnya aku khawatir, apa jadinya jika suatu saat bulik Tutik terinspirasi oleh keadilan Newton versi Wati, dan menuntut balik oksigen yang dihasilkan si pohon mangga, yang sudah kami hirup selama 8 tahun terakhir ini. Seketika terbersit di benakku adegan saling jambak antara Rosalinda dengan Pamela di telenovela favoritku waktu kecil. Dendam kesumat pun bisa berawal dari hal kecil, bahkan dari beberapa helai daun mangga kering yang rontok ke tanah.  Sungguh satu jam yang sia-sia, batinku. Seharusnya sampah itu sudah terbuang di tempatnya dengan 30 menit yang Wati habiskan untuk menyapu halaman. Sekarang bulik Tutik masih harus membersihkannya lagi dengan waktu yang kurang lebih sama. Aku hanya bisa menghela napas panjang sambil kembali menampi beras yang hendak kumasak. Apa sih sebenarnya yang disebut waktu? Apa benar waktu bisa menjadi sia-sia?

“Mbak Sri, mau masak apa?”
Tanya iparku yang kedua, Marni, kepadaku saat sedang mencuci beras.

“Mau bikin nasi kuning dek, tadi arek-arek kecil pada minta nasi kuning untuk buka puasa, seperti yang diantarkan bulik Tutik kemarin itu. Enak sekali katanya.”


“Waah, asik. Nanti kita makan nasi kuning”


Seloroh Marni sambil tersenyum lebar dan berlari kecil ke arah anak-anak di halaman. Sayup-sayup kudengar dia memberi kabar gembira tentang nasi kuning itu pada semua anggota keluarga sambil cekikikan. Lucu sekali gaya si Marni, keceriaannya yang kadang meluap-luap memang acap kali menutupi sifat aslinya yang amat sangat manja dan kasar. Dia adalah adik perempuan suamiku satu-satunya, yang baru saja menikah tahun ini. Sebagai tuan putri di rumah ini, semua keinginannya harus terpenuhi. Jika tidak, amarahnya akan langsung meledak dan semua anggota keluarga yang lain pun akan terkena imbasnya. Persis elektron atom Hidrogen yang mudah sekali tereksitasi, dan memancarkan spektrum elektromagnetik ke segala arah. Kemarin malam dia baru saja marah besar, karena bapak mertua salah membelikan bakso kesukaannya.


“Bapak ini piye to, kan aku sudah bolak-balik bilang, baksonya gak pake kuah. Kenapa masih pake kuah?!”


Ujarnya dengan nada marah dan dengan bersungut-sungut membalikkan badan lalu pergi ke kamarnya. Tak disentuhnya bakso di meja makan itu. Dengan kikuk dan tergopoh-gopoh, bapak mertua segera mengambil kunci motor dan bergegas membelikan bakso tak berkuah kesukaan Marni itu, berharap anak kesayangannya tidak ngambek lagi. Jantungku berdegup kencang menyaksikan kejadian itu. Tak sadar mataku berkaca-kaca teringat kedua orang tuaku yang tinggal jauh di pedalaman Sumatra, yang sudah 3 tahun terakhir ini tidak bisa berjumpa karena tidak ada biaya untukku dan anak-anak mudik ke sana. Adanya wabah ini membuatku makin sedih, berharap mereka berdua baik-baik saja di sana. Jangankan menghardik bapak karena salah membeli bakso, waktu kecil, minta dibelikan bakso saja aku tidak berani karena takut merepotkan beliau yang hanya bekerja sebagai buruh tani. Jika waktu dapat diulang kembali pun, aku tidak akan menyesal dilahirkan di keluarga miskin yang serba kekurangan. Ternyata kesulitan hidup dan kesederhanaan membuatku tidak bisa melakukan hal-hal yang mungkin akan kusesali nantinya, seperti perlakuan Marni ke bapaknya. Tapi tentu saja kenyataannya yang kita ketahui selama ini, memang waktu tidak dapat diputar kembali, dan tidak semua orang seberuntung aku, bahkan untuk hanya sekadar merasakan kasih sayang orang tua. Panah waktu, itulah sebutannya. Bahwa waktu tidak hanya sekedar definisi ambigu dari arah gerak suatu benda dalam suatu ruang, tapi juga sifat irreversible-nya lah yang hanya memungkinkan waktu untuk hanya memiliki satu arah. Satu jam waktu yang berlalu saat menanak beras hingga menjadi nasi, tidak dapat diputar mundur untuk kembali mengubah nasi menjadi beras. Lalu apakah perbedaan ruang dan waktu? Mungkinkah suatu saat kita bisa kembali ke masa lalu?

Terdengar suara penanak nasi di dapur, menandakan nasi kuning yang kumasak telah matang. Salah satu kebahagiaanku di tengah wabah ini adalah karena waktuku bersama anak-anak menjadi lebih banyak. Aku jadi lebih sering bereksperimen di dapur, dan memasak berbagai menu di buku resep, yang sebelumnya hanya sebatas koleksi saja tanpa sempat dipraktikkan. Salah satu resep yang sudah lama ingin aku coba adalah tumpeng, yaitu nasi kuning komplit beserta lauknya. Tumpeng ini kusebut mini karena ukurannya memang kecil, hanya untuk dimakan sendiri di rumah. Jauh berbeda dengan tumpeng berukuran jumbo yang biasa dibuat untuk acara besar seperti pada umumnya. Lalu aku mulai mengambil nasi kuning dari wadah penanak nasi, dan membentuknya menjadi kerucut yang rapi. Aku sajikan bersama lauk dan pelengkapnya. Ada kering tempe, ayam goreng lengkuas, telur dadar iris, bihun goreng, perkedel kentang, urap sayuran, juga tahu dan tempe bacem. Di sekitar tumpeng juga kuhias dengan garnis sayur-sayuran mungil. Ada daun selada, seledri, tomat yang kubentuk bunga mawar, cabai yang kubentuk angsa, serta timun dan wortel yang kubentuk semak-semak berbunga. Ketika waktu berbuka puasa tiba, anak-anak mulai mengambil nasi dan lauknya, lalu makan dengan lahap. Bahagia sekali melihatnya.  Lama-kelamaan, bentuk kerucut nasi tumpeng itu mulai terpotong dan hancur karena diambil anak-anak. Lalu dengan bersemangat aku ambil lagi nasi kuning di penanak nasi, kemudian kuperbaiki lagi hingga bentuk tumpengnya kerucut sempurna. Kemudian lauk-pauk di sekitarnya yang mulai berkurang pun aku tambah lagi seperti semula, dengan mengambil persediaannya di dapur. Kebetulan aku masak cukup banyak hari ini. Makin kuperbaiki tumpeng dan menambah isinya yang mulai habis, makin berkurang pula stok nasi kuning di penanak nasi. Begitu seterusnya hingga kondisi nasi kuning di penanak nasi, yang ketika baru matang tadi masih penuh dan rapi, sekarang pun menjadi hampir habis dan tidak beraturan. "Entropi", begitulah kaum cendekiawan ilmiah menyebut fenomena tumpeng yang kualami ini.

Seiring waktu, total entropi di alam semesta ini tidak pernah berkurang. Dengan kata lain, segala sesuatu di dunia ini akan cenderung menjadi tidak beraturan atau bisa dibilang, berantakan. Kita bisa menukar entropi dari satu tempat ke tempat lain, seperti saat aku mengambil nasi kuning dari penanak nasi untuk membentuk tumpeng, tapi total jumlah entropi secara keseluruhan pada sistem tersebut tetap akan meningkat.

“Mbak Sri…” tiba-tiba terdengar suara iparku yang ke-3, Ida, memanggil sambil menepuk pundakku,


“Wah hebat ya sampeyan, bisa masak aneh-aneh dan macem-macem jenisnya” pungkasnya seraya ikut mengambil tumpeng beserta lauknya.


“Ah bisaku ya cuma mempraktikkan yang di buku resep Da, rasanya juga gak seenak buatan bulik Tutik kemarin” ujarku sambil tersipu.


Sambil tersenyum, Ida menimpali “Enak kok mbak.. tapi gak tau tuh ibuk nanti doyan enggak ya. Tempo hari aku dengar ibuk bilang ke bulik Tutik, katanya gak doyan kalo mbak Sri yang masak. Masakannya suka aneh-aneh, bukan masakan Jawa pada umumnya” katanya setengah berbisik padaku. Wajah bulatnya dicondongkan ke arahku, dengan bibir tebalnya yang berusaha diciutkan mendekat ke telingaku bak ikan mujair raksasa yang sedang kelaparan, seraya melirik licik ke arah ibu mertuaku yang sedang menyiapkan teh di dapur.


Seketika aku tersentak, bibirku yang semula tersenyum mendadak kaku dan tak kuasa mempertahankan bentuknya lagi, asimetris dan bergetar di sudutnya bagaikan seekor ikan yang terjerat kail di mulutnya. Kelopak mataku mulai membesar, alisku terangkat, darahku berdesir terasa mulai naik ke kepala dan tanganku mulai mengepal.


“Astaghfirullah, cobaan apa lagi ini..” batinku.


Tak henti-hentinya iparku yang satu ini mencoba mengadu domba aku dengan mertuaku. Rupanya ia tidak rela jika mertuaku tampak lebih perhatian pada suamiku, yang memang anak kesayangannya sejak kecil. Seketika aku tersadar dan dengan cepat kurapikan bentuk tumpeng, lalu aku kembali ke dapur untuk mengambil teh. Aku pura-pura tidak mendengar ucapan Ida tadi, dan berusaha bersikap ceria dan menyembunyikan kegusaranku. Semua anggota keluarga berbuka dengan suka cita. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga kebahagiaan Ramadhan ini adalah nyata. Ya.. tidak ada keharmonisan abadi, sudah kecenderungan alamlah kekacauan ini, aku membatin dalam hati berusaha menenangkan diri. Ternyata Hukum Termodinamika Kedua adalah biang kerok semua ini. Entah mengapa tiba-tiba aku berusaha untuk memaklumi semuanya.


Bersambung....


7/27/18

My latest illustration: Moon Lady




Have you ever wondered why human is the only creature on earth that have the ability of deceiving? As much as I'm afraid of snake and all other reptilian out there, sometimes I wish that people I interact with is as simple as them. A cold blooded predator who have no other intention than to eat you and be straight about it without faking a smile. To be honest, I'd rather be with people who clearly hate me, rather than being with people that pretend to love me. Don't you think that this life would be so much easier? 


I guess that would be the beauty of life. The art of survival of every creature in the world, the ability to fit even in the deadliest environment. Sometimes the only way to survive is to deceive others. It's sad, but it's the reality. It's the nature of our existence, to fight for our live. But what is the meaning of life if it's just a series of lies and deceit that we play over and over again for the rest of our life? 


I believe it's a choice. A bitter choice that we have to fight everyday between right and wrong. An ambiguous priority that drives us crazy. But then again, it's so amazing to see that human is the only creature in this world that have the ability to do a hypocrisy, the highest level in the art of deception. When the  feeling in our heart doesn't really matter anymore.



So what do you think? Is it a bless or a curse? Sometimes if wish I could fly to the moon, away from everything..


Ps: My latest illustration is available as printed laptop tote for pre-order now at my webstore