5/11/20

Tentang Waktu



Bagian 1


Alahuakbarrr Allaaaahuuuakbaaarrr!!!!


Terdengar azan subuh berintensitas seratus desibel berkumandang dari pengeras suara sember di mushola kecil sekitar 20 meter dekat rumah kami. Sang muazin, Pak Sabar tetangga depan rumah, memang tidak bersuara semerdu Said Al Ghomidi, imam besar Masjidil Haram yang sangat diidolakan suamiku. Namun demikian, semangatnya untuk berusaha istiqomah selalu azan tepat waktu, sepertinya bisa menutupi kesalahan makhraj dan harakat yang mungkin jika guru mengajiku, pak Haji Sangsang, mendengarnya akan merah padam wajahnya menahan keinginan untuk ‘mengajari’ cara mengaji dengan sempurna. Aku teringat semasa kecil dulu, setiap Ramadhan, anak-anak di kampungku semakin antusias mengaji, selain karena di masjid dekat rumah selalu mengadakan buka bersama, juga karena takjil dari ibu-ibu sekitar masjid sangat banyak ragamnya dan lezat-lezat pula rasanya. Kegembiraan dan antusiasme anak-anak yang termotivasi takjil itu ternyata berimbas pada menurunnya konsentrasi mereka saat pelajaran mengaji dimulai. Betapa tidak, satu persatu berdatangan ibu-ibu mengantarkan takjil silih berganti, diikuti semerbak aroma makanan memenuhi serambi masjid, tepat di luar jendela ruangan tempat mengaji kami. Satu persatu anak-anak mulai berkerumun di dekat jendela, tanpa menghiraukan Pak Haji Sangsang yang sedang menyimak temanku mengaji. Melihat perbuatan anak-anak itu, seketika raut wajah pak haji Sangsang berubah bengis, dan melemparkan penghapus kayu besar ke arah tembok

 “Bletakkk!!!!” 


sambil berteriak "Ulangiiiii lagi dari awal Yadiii, makhrajnya salah semuaaa!!!” seraya melotot ke arah anak-anak yang berkerumun di jendela. Aku, yang sedang menyalin surat Al-Ikhlas sambil beberapa kali menelan air liur yang makin deras mengalir karena terstimulus aroma sedap dari luar jendela, seketika kaget melihat ke arah mata haji Sangsang yang terbelalak nanar. Bola matanya yang penuh urat merah pembuluh kapiler, seolah meronta ingin melompat lepas merdeka dari kelopak matanya yang keriput dan berkantung bak lipatan poni gelombang pada gorden di jendela rumah bangsawan Perancis. Bagi anak berumur 7 tahun sepertiku, sungguh itu adalah pemandangan yang cukup mengerikan, yang justru jadi pengalaman menggelikan ketika diingat sekarang. Teman-temanku yang sedang asyik mengintip takjil di jendela seketika buyar seperti kerumunan ayam yang kalang kabut dilempar petasan, sedangkan si Yadi yang sedang mengaji celingak-celinguk kebingungan karena namanya disebut lantang, namun ternyata bukanlah dia yang dimaksudkan. Aku selalu tersenyum geli jika mengingat ramadan di masa kecil, yang kini jauh berbeda dengan kondisi tahun ini, dimana seluruh dunia sedang terjangkit wabah mematikan bernama virus Covid-19. Andaikan waktu dapat diulang kembali, akankah hidupku jadi lebih baik dari sekarang? Ataukah justru lebih buruk?

Tok tok tok!! “Budiiiii, bangun le.. Ayo sahur dulu”

Terdengar ibu mertuaku mengetuk pintu kamar kami. Aku yang sedang menyusui anak bayiku yang kedua, tergopoh berusaha ikut membangunkan suamiku dengan menendangnya secara spontan.


Brakkkk!!


Tiba-tiba suamiku yang terbangun kaget, jatuh terlentang di lantai.  “Nggeblak” istilah bahasa Jawanya yang lebih spesifik. Sambil mengerang kesakitan ia merintih berbisik “pelan-pelan dong kalo bangunin, sakit tau”, ujarnya sambil meringkuk memegang kemaluannya. Innalillahiii, ternyata buah zakarnya lah yang tak sengaja kutendang. Karena kaget dan dalam keadaan gelap, tak sadar aku mengeluarkan jurus Jujitsu dari film laga yang kemarin kutonton di TV, tepat mengenai skrotum yang berisi sel-sel sertoli, sang produsen benih cikal bakal kelangsungan generasi umat manusia di alam semesta.


“Maaf..maaf ya, itu ibu dari tadi ketuk pintu bangunin kita. Ayo sahur dulu…” bisikku pelan takut membangunkan anak bayiku yang pulas tertidur. Di kamar kecil berukuran 2x3m ini kami tidur berempat, bersama anak sulungku yang berumur 6 tahun. Sudah satu bulan sejak perusahaan tempat bekerja suamiku gulung tikar, kami berempat pulang kampung dan tinggal menumpang di rumah ibu mertuaku di desa. Uang tabungan sudah habis untuk membayar hutang, dan suamiku  sudah tidak mampu lagi membayar kontrakan dan biaya hidup yang mahal di kota. Aku yang hanya ibu rumah tangga di rumah, tidak bisa banyak membantu suamiku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan berat hati keputusan memalukan ini kami ambil, setelah beberapa hari kami hanya bisa makan nasi aking dan kecap yang diencerkan untuk mengganjal perut. Mertuaku yang bisa dibilang cukup berada di desa, sangat senang menyambut kedatangan kami, karena suamiku beralasan bahwa perusahaannya menerapkan “work from home” seperti anjuran pemerintah, dan sekolah anak-anak pun libur sehingga akhirnya kami semua bisa pulang kampung untuk waktu yang lama. Atau bahkan mungkin selamanya, pikirku sambil tersenyum getir membayangkan hari-hari panjang yang akan kulalui di rumah mertuaku ini. Suamiku bergegas bangun dan bersiap sahur, lalu sholat subuh berjamaah di masjid bersama bapak mertua dan dua orang adik laki-lakinya, sedangkan ibu mertuaku dan tiga orang iparku yang lain sholat berjamaah di rumah. Sungguh sangat harmonis dan agamis keluarga ini, jika orang lain melihat pasti akan ikut senang dan berharap memiliki keluarga besar seperti kami. Namun tak semua yang tampak itu mencerminkan yang sesungguhnya terjadi. Prahara dalam drama tidak bisa dengan mudah terungkap hanya dengan melihat judulnya saja. Begitulah kira-kira yang  terjadi di rumah ini.

Kesibukan pagi pun dimulai, seperti biasa anak-anak bermain dengan ceria di halaman rumah. Aku dan para ipar wanita sibuk bersih-bersih, mencuci pakaian, menyetrika, dan berbagai kegiatan harian yang sungguh melelahkan jika tidak dilakukan dengan ikhlas. Tak terasa sudah 8 tahun aku berumah tangga, dan kini aku mulai memahami sifat tiap-tiap anggota keluargaku yang unik ini, dan tentunya membuat hari-hariku menjadi sangat berwarna. Iparku yang pertama, Wati, adalah seorang Newtonian sejati. Ia tampaknya sungguh terobsesi dengan hukum ke 3 Newton yang berbunyi “untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah”. Caranya bersikap pada orang lain selalu harus sesuai dengan perlakuan orang itu terhadapnya. Jika ada sesuatu yang dianggap kurang adil baginya, bisa langsung gelisah hatinya seolah ada bisul besar di bokongnya yang hampir meletus hingga tak bisa duduk tenteram. Pantang baginya untuk meminjam barang yang bukan miliknya, dan juga mengambil yang bukan haknya. Juga sebaliknya, jika ada barang miliknya yang dipinjam, mungkin akan dikejarnya hingga 7 turunan jika tak segera dikembalikan. 

Pagi ini baru saja kulihat dia “mengembalikan” sampah daun dari pohon mangga milik saudara sebelah rumah, bulik Tutik adik kandung ibu mertuaku, ke depan halaman mereka lagi. Padahal ada dua keranjang sampah kosong di sana. Rupanya Wati ingin memberi pelajaran moral dari Hukum Newton ke 3 tersebut pada bulik Tutik, yang bahkan mungkin Sir Isaac Newton sendiri dulunya tidak sampai hati menerapkan ke tetangganya. Halaman rumah mertuaku tampak bersih kembali, kontras dengan halaman rumah bulik Tutik sekarang. Pemandangan yang cukup menggelikan pagi ini, merupakan “hiburan” tersendiri bagiku. Namun sejujurnya aku merasa perbuatan iparku agak berlebihan, mengingat betapa baiknya bulik Tutik sekeluarga pada kami. Saat pohon mangganya berbuah, mereka selalu mengantarkan sebagian hasil panennya ke rumah. Juga masih banyak kebaikan lain, yang mungkin hanya bisa ditimbang di Yaumul Hisab nantinya, jika Wati merasa itu tidak ada kaitannya dengan konsep “keadilan” yang dianutnya. Sesungguhnya aku khawatir, apa jadinya jika suatu saat bulik Tutik terinspirasi oleh keadilan Newton versi Wati, dan menuntut balik oksigen yang dihasilkan si pohon mangga, yang sudah kami hirup selama 8 tahun terakhir ini. Seketika terbersit di benakku adegan saling jambak antara Rosalinda dengan Pamela di telenovela favoritku waktu kecil. Dendam kesumat pun bisa berawal dari hal kecil, bahkan dari beberapa helai daun mangga kering yang rontok ke tanah.  Sungguh satu jam yang sia-sia, batinku. Seharusnya sampah itu sudah terbuang di tempatnya dengan 30 menit yang Wati habiskan untuk menyapu halaman. Sekarang bulik Tutik masih harus membersihkannya lagi dengan waktu yang kurang lebih sama. Aku hanya bisa menghela napas panjang sambil kembali menampi beras yang hendak kumasak. Apa sih sebenarnya yang disebut waktu? Apa benar waktu bisa menjadi sia-sia?

“Mbak Sri, mau masak apa?”
Tanya iparku yang kedua, Marni, kepadaku saat sedang mencuci beras.

“Mau bikin nasi kuning dek, tadi arek-arek kecil pada minta nasi kuning untuk buka puasa, seperti yang diantarkan bulik Tutik kemarin itu. Enak sekali katanya.”


“Waah, asik. Nanti kita makan nasi kuning”


Seloroh Marni sambil tersenyum lebar dan berlari kecil ke arah anak-anak di halaman. Sayup-sayup kudengar dia memberi kabar gembira tentang nasi kuning itu pada semua anggota keluarga sambil cekikikan. Lucu sekali gaya si Marni, keceriaannya yang kadang meluap-luap memang acap kali menutupi sifat aslinya yang amat sangat manja dan kasar. Dia adalah adik perempuan suamiku satu-satunya, yang baru saja menikah tahun ini. Sebagai tuan putri di rumah ini, semua keinginannya harus terpenuhi. Jika tidak, amarahnya akan langsung meledak dan semua anggota keluarga yang lain pun akan terkena imbasnya. Persis elektron atom Hidrogen yang mudah sekali tereksitasi, dan memancarkan spektrum elektromagnetik ke segala arah. Kemarin malam dia baru saja marah besar, karena bapak mertua salah membelikan bakso kesukaannya.


“Bapak ini piye to, kan aku sudah bolak-balik bilang, baksonya gak pake kuah. Kenapa masih pake kuah?!”


Ujarnya dengan nada marah dan dengan bersungut-sungut membalikkan badan lalu pergi ke kamarnya. Tak disentuhnya bakso di meja makan itu. Dengan kikuk dan tergopoh-gopoh, bapak mertua segera mengambil kunci motor dan bergegas membelikan bakso tak berkuah kesukaan Marni itu, berharap anak kesayangannya tidak ngambek lagi. Jantungku berdegup kencang menyaksikan kejadian itu. Tak sadar mataku berkaca-kaca teringat kedua orang tuaku yang tinggal jauh di pedalaman Sumatra, yang sudah 3 tahun terakhir ini tidak bisa berjumpa karena tidak ada biaya untukku dan anak-anak mudik ke sana. Adanya wabah ini membuatku makin sedih, berharap mereka berdua baik-baik saja di sana. Jangankan menghardik bapak karena salah membeli bakso, waktu kecil, minta dibelikan bakso saja aku tidak berani karena takut merepotkan beliau yang hanya bekerja sebagai buruh tani. Jika waktu dapat diulang kembali pun, aku tidak akan menyesal dilahirkan di keluarga miskin yang serba kekurangan. Ternyata kesulitan hidup dan kesederhanaan membuatku tidak bisa melakukan hal-hal yang mungkin akan kusesali nantinya, seperti perlakuan Marni ke bapaknya. Tapi tentu saja kenyataannya yang kita ketahui selama ini, memang waktu tidak dapat diputar kembali, dan tidak semua orang seberuntung aku, bahkan untuk hanya sekadar merasakan kasih sayang orang tua. Panah waktu, itulah sebutannya. Bahwa waktu tidak hanya sekedar definisi ambigu dari arah gerak suatu benda dalam suatu ruang, tapi juga sifat irreversible-nya lah yang hanya memungkinkan waktu untuk hanya memiliki satu arah. Satu jam waktu yang berlalu saat menanak beras hingga menjadi nasi, tidak dapat diputar mundur untuk kembali mengubah nasi menjadi beras. Lalu apakah perbedaan ruang dan waktu? Mungkinkah suatu saat kita bisa kembali ke masa lalu?

Terdengar suara penanak nasi di dapur, menandakan nasi kuning yang kumasak telah matang. Salah satu kebahagiaanku di tengah wabah ini adalah karena waktuku bersama anak-anak menjadi lebih banyak. Aku jadi lebih sering bereksperimen di dapur, dan memasak berbagai menu di buku resep, yang sebelumnya hanya sebatas koleksi saja tanpa sempat dipraktikkan. Salah satu resep yang sudah lama ingin aku coba adalah tumpeng, yaitu nasi kuning komplit beserta lauknya. Tumpeng ini kusebut mini karena ukurannya memang kecil, hanya untuk dimakan sendiri di rumah. Jauh berbeda dengan tumpeng berukuran jumbo yang biasa dibuat untuk acara besar seperti pada umumnya. Lalu aku mulai mengambil nasi kuning dari wadah penanak nasi, dan membentuknya menjadi kerucut yang rapi. Aku sajikan bersama lauk dan pelengkapnya. Ada kering tempe, ayam goreng lengkuas, telur dadar iris, bihun goreng, perkedel kentang, urap sayuran, juga tahu dan tempe bacem. Di sekitar tumpeng juga kuhias dengan garnis sayur-sayuran mungil. Ada daun selada, seledri, tomat yang kubentuk bunga mawar, cabai yang kubentuk angsa, serta timun dan wortel yang kubentuk semak-semak berbunga. Ketika waktu berbuka puasa tiba, anak-anak mulai mengambil nasi dan lauknya, lalu makan dengan lahap. Bahagia sekali melihatnya.  Lama-kelamaan, bentuk kerucut nasi tumpeng itu mulai terpotong dan hancur karena diambil anak-anak. Lalu dengan bersemangat aku ambil lagi nasi kuning di penanak nasi, kemudian kuperbaiki lagi hingga bentuk tumpengnya kerucut sempurna. Kemudian lauk-pauk di sekitarnya yang mulai berkurang pun aku tambah lagi seperti semula, dengan mengambil persediaannya di dapur. Kebetulan aku masak cukup banyak hari ini. Makin kuperbaiki tumpeng dan menambah isinya yang mulai habis, makin berkurang pula stok nasi kuning di penanak nasi. Begitu seterusnya hingga kondisi nasi kuning di penanak nasi, yang ketika baru matang tadi masih penuh dan rapi, sekarang pun menjadi hampir habis dan tidak beraturan. "Entropi", begitulah kaum cendekiawan ilmiah menyebut fenomena tumpeng yang kualami ini.

Seiring waktu, total entropi di alam semesta ini tidak pernah berkurang. Dengan kata lain, segala sesuatu di dunia ini akan cenderung menjadi tidak beraturan atau bisa dibilang, berantakan. Kita bisa menukar entropi dari satu tempat ke tempat lain, seperti saat aku mengambil nasi kuning dari penanak nasi untuk membentuk tumpeng, tapi total jumlah entropi secara keseluruhan pada sistem tersebut tetap akan meningkat.

“Mbak Sri…” tiba-tiba terdengar suara iparku yang ke-3, Ida, memanggil sambil menepuk pundakku,


“Wah hebat ya sampeyan, bisa masak aneh-aneh dan macem-macem jenisnya” pungkasnya seraya ikut mengambil tumpeng beserta lauknya.


“Ah bisaku ya cuma mempraktikkan yang di buku resep Da, rasanya juga gak seenak buatan bulik Tutik kemarin” ujarku sambil tersipu.


Sambil tersenyum, Ida menimpali “Enak kok mbak.. tapi gak tau tuh ibuk nanti doyan enggak ya. Tempo hari aku dengar ibuk bilang ke bulik Tutik, katanya gak doyan kalo mbak Sri yang masak. Masakannya suka aneh-aneh, bukan masakan Jawa pada umumnya” katanya setengah berbisik padaku. Wajah bulatnya dicondongkan ke arahku, dengan bibir tebalnya yang berusaha diciutkan mendekat ke telingaku bak ikan mujair raksasa yang sedang kelaparan, seraya melirik licik ke arah ibu mertuaku yang sedang menyiapkan teh di dapur.


Seketika aku tersentak, bibirku yang semula tersenyum mendadak kaku dan tak kuasa mempertahankan bentuknya lagi, asimetris dan bergetar di sudutnya bagaikan seekor ikan yang terjerat kail di mulutnya. Kelopak mataku mulai membesar, alisku terangkat, darahku berdesir terasa mulai naik ke kepala dan tanganku mulai mengepal.


“Astaghfirullah, cobaan apa lagi ini..” batinku.


Tak henti-hentinya iparku yang satu ini mencoba mengadu domba aku dengan mertuaku. Rupanya ia tidak rela jika mertuaku tampak lebih perhatian pada suamiku, yang memang anak kesayangannya sejak kecil. Seketika aku tersadar dan dengan cepat kurapikan bentuk tumpeng, lalu aku kembali ke dapur untuk mengambil teh. Aku pura-pura tidak mendengar ucapan Ida tadi, dan berusaha bersikap ceria dan menyembunyikan kegusaranku. Semua anggota keluarga berbuka dengan suka cita. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga kebahagiaan Ramadhan ini adalah nyata. Ya.. tidak ada keharmonisan abadi, sudah kecenderungan alamlah kekacauan ini, aku membatin dalam hati berusaha menenangkan diri. Ternyata Hukum Termodinamika Kedua adalah biang kerok semua ini. Entah mengapa tiba-tiba aku berusaha untuk memaklumi semuanya.


Bersambung....


9 comments :

  1. Monmap. Apakah Mbak Sri punya nomor WA? Kalau ada saya minta, mau tak ajak nulis antologi cerpen di Klinik Abjad.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Sri sibuk, lagi masak nasi kuning lagi ustadz 😆

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Mbak sri suruh kirim tuminie ke rmh yo,biar bs menilai secara obyektif ttg rasa e...hahahahha

    ReplyDelete
  4. Membaca cerpen ini, seperti sedang melihat orangnya langsung. Ceritanya hidup.

    ReplyDelete